Aspirasi Fisika 2025
Aspirasi Fisika 2025
Departemen Regulasi dan Advokasi Himpunan Mahasiswa Program Studi Fisika menyelenggarakan program kerja Kotak Aspirasi Offline 2025 sebagai sarana penyaluran aspirasi mahasiswa secara langsung dan tertulis. Program ini bertujuan untuk menampung, mencatat, serta menindaklanjuti berbagai keluhan, saran, dan masukan mahasiswa yang berkaitan dengan kegiatan akademik maupun nonakademik di lingkungan Program Studi Fisika.

Pelaksanaan Kotak Aspirasi Offline 2025 dilakukan dengan menyediakan kotak aspirasi di lokasi area kampus yang mudah dijangkau oleh mahasiswa. Mahasiswa dapat menyampaikan aspirasi secara bebas tanpa kewajiban mencantumkan identitas, sehingga diharapkan tercipta rasa aman dan keterbukaan dalam menyampaikan pendapat. Pengumpulan aspirasi dilakukan secara berkala oleh Departemen Regulasi dan Advokasi.
Aspirasi yang telah terkumpul kemudian dikelompokkan dan dibahas oleh Departemen Regulasi dan Advokasi. Setiap aspirasi diperiksa satu per satu untuk melihat tingkat kepentingan dan dampaknya bagi mahasiswa. Aspirasi yang dirasa perlu segera ditangani akan diprioritaskan, sedangkan aspirasi lainnya dicatat sebagai bahan evaluasi ke depan. Selanjutnya, aspirasi tersebut disampaikan kepada pihak terkait dengan cara yang baik, teratur, dan sesuai dengan aturan organisasi. Seluruh proses dilakukan dengan menjaga sikap sopan dan komunikasi yang jelas agar aspirasi mahasiswa dapat tersampaikan dengan tepat.

Aspirasi offline adalah salah satu cara yang efektif bagi mahasiswa untuk menyampaikan pendapat mereka. Melalui cara ini, mahasiswa bisa langsung menulis keluhan, saran, atau masukan mereka dan memasukkannya ke kotak aspirasi. Dengan menyampaikan aspirasi secara langsung dan tertulis, mahasiswa bisa merasa lebih bebas tanpa tekanan, sehingga apa yang mereka sampaikan biasanya lebih jujur dan menggambarkan keadaan sebenarnya. Selain itu, adanya aspirasi offline juga sangat membantu bagi Departemen Regulasi dan Advokasi. Metode ini membuat mereka bisa menjangkau mahasiswa yang mungkin belum terbiasa menggunakan media daring untuk menyampaikan pendapat. Dengan begitu, semua aspirasi dari berbagai mahasiswa bisa terserap dengan lebih merata dan tidak ada yang terlewat. Cara ini juga membuat proses pengumpulan aspirasi menjadi lebih inklusif, karena semua mahasiswa, baik yang aktif online maupun yang jarang menggunakan internet, tetap punya kesempatan untuk menyuarakan pendapat mereka. Dengan adanya aspirasi offline, mahasiswa merasa didengar dan dihargai, sementara pihak kampus mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang apa yang menjadi kebutuhan dan harapan mahasiswa. Hal ini tentu mendukung terciptanya komunikasi yang lebih baik antara mahasiswa dan pihak kampus, serta membantu perbaikan dan pengambilan keputusan yang lebih tepat sasaran.
